Bolehkah saya bertanya apakah seorang karyawan yang mengetahui dirinya menderita penyakit akibat kerja setelah berhenti dari pekerjaannya berhak atas tunjangan apa pun? - Pembaca Chi Do
1. Setelah meninggalkan pekerjaan, apa yang harus dilakukan karyawan jika ia mencurigai dirinya menderita penyakit akibat kerja?
Pekerja yang telah pensiun, berhenti dari pekerjaannya, atau pindah kerja ke pemberi kerja lain dan mencurigai atau menunjukkan gejala atau tanda-tanda penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh pekerjaan sebelumnya atau pekerjaan yang mempunyai risiko penyakit akibat kerja, dapat secara proaktif melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi dan menilai tingkat penurunan kemampuan kerja akibat penyakit akibat kerja sebagai berikut:
Karyawan yang pensiun atau diberhentikan dari pekerjaan wajib mengirimkan salinan rekam medis pribadinya ke fasilitas pemeriksaan kesehatan kerja (dengan dokumen asli sebagai pembanding) saat menjalani pemeriksaan penyakit akibat kerja. Setelah menerima hasil pemeriksaan penyakit akibat kerja, fasilitas pemeriksaan kesehatan kerja akan melengkapi rekam medis karyawan sesuai dengan ketentuan Kementerian Kesehatan .
Karyawan yang telah pindah kerja wajib mengirimkan rekam medis pribadinya ke fasilitas pemeriksaan kesehatan kerja ketika terdiagnosis penyakit akibat kerja. Setelah penyakit akibat kerja terdiagnosis, karyawan atau perusahaan tempat karyawan tersebut bekerja akan membuat rekam medis penyakit akibat kerja berdasarkan catatan manajemen kesehatan karyawan tersebut;
- Setelah mempunyai catatan penyakit akibat kerja, karyawan secara proaktif melakukan pemeriksaan kesehatan atau meminta unit tempat karyawan tersebut pernah bekerja atau sedang bekerja untuk melakukan rujukan pemeriksaan guna mengetahui tingkat penurunan kapasitas kerja.
Catatan: Dalam hal profil pekerja tidak memiliki data pemantauan lingkungan kerja pada saat melaksanakan pekerjaan atau jabatan yang mempunyai risiko penyakit akibat kerja, atau profil pemantauan lingkungan kerja hilang, atau profil kesehatan hilang, maka sebelum melaksanakan ketentuan tersebut di atas, pekerja atau pemberi kerja tempat pekerja bekerja harus menyampaikan permohonan tertulis verifikasi penyakit akibat kerja kepada instansi kesehatan yang berwenang sesuai petunjuk Menteri Kesehatan.
(Pasal 1, 2, Pasal 5, Keputusan 88/2020/ND-CP)
2. Apakah karyawan berhak memperoleh tunjangan jika mereka mengetahui menderita penyakit akibat kerja setelah meninggalkan pekerjaan?
Sesuai dengan Pasal 5 Ayat 3 Peraturan Pemerintah Nomor 88 Tahun 2020/ND-CP, pekerja/buruh yang menderita penyakit akibat kerja, keluarga pekerja/buruh yang menderita penyakit akibat kerja setelah pensiun, mengundurkan diri, atau pindah kerja, yang mencurigai atau melihat gejala atau tanda penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh pekerjaan sebelumnya atau pekerjaan yang berisiko menimbulkan penyakit akibat kerja, akan diberikan manfaat sebagai berikut oleh Dana Jaminan Sosial untuk kecelakaan dan penyakit akibat kerja:
(i) Rezim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Bab III Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Tahun 2015 bagi pekerja peserta asuransi sosial wajib, meliputi:
- Penilaian biaya cedera dan penyakit;
- Tunjangan satu kali atau bulanan;
- Tunjangan layanan;
- Dukungan untuk alat bantu hidup dan perangkat ortopedi;
- Pemulihan dan pemulihan kesehatan;
- Tunjangan apabila pekerja meninggal dunia akibat penyakit akibat kerja;
- Membayar asuransi kesehatan bagi karyawan yang sedang cuti dan menerima manfaat asuransi penyakit akibat kerja bulanan;
(ii) Bantuan biaya pemeriksaan kesehatan kerja sebesar 100% yang dihitung berdasarkan daftar harga pemeriksaan kesehatan kerja yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan pada saat pekerja menjalani pemeriksaan kesehatan kerja setelah dibiayai oleh jaminan kesehatan; jumlah bantuan maksimal untuk setiap pekerja adalah 02 kali dan bantuan hanya dapat diterima 1 (satu) kali dalam 01 (satu) tahun;
(iii) Menanggung 100% biaya pengobatan penyakit akibat kerja yang dihitung berdasarkan daftar harga pengobatan penyakit akibat kerja pada saat pekerja/buruh menerima pengobatan penyakit akibat kerja sesuai ketentuan Menteri Kesehatan setelah dibayar oleh jaminan kesehatan; jumlah kali tanggungan setiap pekerja/buruh maksimal 02 kali dan dalam 01 tahun tanggungan hanya dapat diterima sebanyak 01 kali.
3. Syarat-syarat untuk mendapatkan manfaat penyakit akibat kerja setelah berhenti bekerja
Sesuai dengan Pasal 4, Pasal 5 Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 88/2020/ND-CP, pekerja berhak memperoleh manfaat jaminan sosial kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 di atas apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:
- Mendeteksi penyakit akibat kerja dalam batas waktu yang ditentukan oleh Menteri Kesehatan.
- Menjadi peserta jaminan sosial wajib selama menjalankan tugas profesi atau pekerjaan yang menimbulkan penyakit akibat kerja sebagaimana dimaksud di atas;
- Mengalami penurunan kapasitas kerja sebesar 5% atau lebih akibat penyakit akibat kerja, untuk kasus yang dipertimbangkan untuk mendapatkan manfaat pada poin (i) bagian 2.
4. Dokumen untuk mendapatkan dukungan biaya pemeriksaan dan pengobatan penyakit akibat kerja
Sesuai dengan Pasal 5 dan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 88 Tahun 2020 tentang Ketenagakerjaan, berkas permohonan untuk memperoleh manfaat Dana Jaminan Sosial Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 adalah sebagai berikut:
- Catatan santunan penyakit akibat kerja untuk kasus sebagaimana dimaksud pada butir (i) ayat 2:
+ Permohonan santunan penyakit akibat kerja bagi pegawai sesuai Formulir No. 01 pada Lampiran Keputusan 88/2020/ND-CP bagi pegawai yang pensiun atau diberhentikan; atau dokumen dari pemberi kerja tempat pegawai bekerja yang meminta penyelesaian santunan penyakit akibat kerja sesuai formulir yang dikeluarkan oleh Jaminan Sosial Vietnam, apabila pegawai pindah kerja ke pemberi kerja lain;
+ Risalah penilaian tingkat penurunan kapasitas kerja oleh Dewan Penilaian Medis.
- Dokumen yang perlu mendapat dukungan biaya pemeriksaan dan pengobatan penyakit akibat kerja untuk kasus sebagaimana dimaksud pada butir (ii), (iii) ayat 2 antara lain:
+ Permohonan dukungan biaya pemeriksaan dan pengobatan penyakit akibat kerja bagi pekerja sesuai Formulir Nomor 02 dalam Lampiran Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 88/2020/M-P3B untuk pekerja yang telah pensiun atau berhenti bekerja; atau dokumen pemberi kerja tempat pekerja bekerja sesuai ketentuan Pasal 18 ayat 1 dan Pasal 22 Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 88/2020/M-P3B, dalam hal pekerja pindah kerja ke pemberi kerja lain;
+ Komponen dokumen sebagaimana ditentukan dalam Klausul 2, Pasal 18 dan Klausul 2, Pasal 22 Keputusan 88/2020/ND-CP;
+ Salinan surat keluar rumah sakit atau salinan catatan medis setelah perawatan penyakit akibat kerja;
+ Dokumen asli pembayaran biaya pemeriksaan dan pengobatan penyakit akibat kerja sesuai ketentuan.
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)