Dengan undang-undang yang baru disahkan, pupuk dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 5%. Hal ini menjadi salah satu isu yang masih menjadi perdebatan dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (revisi) pada sidang ini.
Pada pagi yang sama, Sekretaris Jenderal Majelis Nasional mengirimkan surat suara untuk meminta pendapat para anggota Majelis Nasional tentang sejumlah isi terkait rancangan undang-undang tersebut, termasuk memasukkan pupuk yang dikenakan PPN.
Hasil pemungutan suara menunjukkan bahwa 234 deputi Majelis Nasional (mencakup 72,67% dari jumlah total deputi yang memberikan pendapat) menyetujui peraturan untuk memasukkan kembali pupuk, mesin, peralatan khusus untuk produksi pertanian , dan kapal penangkap ikan ke dalam kelompok pajak PPN 5%.
Anggota DPR memberikan suara untuk mengesahkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai yang telah diamandemen. (Foto: Ho Long)
Laporan mengenai penjelasan, penerimaan, revisi dan penyelesaian rancangan undang-undang yang disampaikan oleh Bapak Le Quang Manh, Ketua Komite Keuangan dan Anggaran Majelis Nasional, dengan jelas menyatakan bahwa usulan untuk mengenakan tarif PPN pupuk sebesar 0% (atau 1%, 2%) akan memastikan manfaat bagi perusahaan produksi pupuk dalam negeri dan perusahaan importir karena pupuk impor dan pupuk produksi dalam negeri keduanya akan mendapatkan pengembalian PPN masukan yang dibayarkan dan tidak perlu membayar PPN atas pupuk saat dijual.
Namun, dalam kasus ini, APBN harus mengeluarkan ribuan miliar VND setiap tahun untuk mengembalikan PPN masukan kepada pelaku usaha. Selain merugikan APBN, penerapan tarif pajak 0% untuk pupuk bertentangan dengan prinsip dan praktik PPN, yaitu tarif pajak 0% hanya berlaku untuk barang dan jasa ekspor, bukan untuk konsumsi dalam negeri. Penerapan tarif pajak 0% ke arah ini akan merusak netralitas kebijakan perpajakan, menciptakan preseden buruk, dan tidak adil bagi industri manufaktur lainnya.
Terkait pendapat yang menyatakan bahwa "penerapan PPN 5% akan menaikkan harga pupuk", Komite Tetap Majelis Nasional (NASC) menyatakan bahwa para ahli telah menghitung bahwa jika pupuk dikenakan tarif pajak 5%, harga pupuk Urea, DAP, dan fosfat produksi dalam negeri akan berpeluang turun.
Berdasarkan struktur pasar pupuk saat ini (konsumsi pupuk dalam negeri mencapai lebih dari 70%, konsumsi pupuk impor kurang dari 30%), hal itu akan memungkinkan perusahaan produksi pupuk dalam negeri untuk memimpin penyesuaian harga pasar pupuk.
Dengan adanya kebijakan penerapan tarif PPN sebesar 5% terhadap pupuk, maka harga pupuk produksi dalam negeri akan turun, harga jual pupuk produksi dalam negeri pun berpeluang turun, yang akan berdampak kepada para importir pupuk yang juga harus menurunkan harga jual pupuk impornya sesuai dengan tingkat harga pasar, sehingga memberikan keuntungan besar bagi petani.
Terkait kemungkinan pelaku usaha memanfaatkan kebijakan untuk memengaruhi harga pupuk di pasar, sebagaimana dikhawatirkan beberapa anggota DPR, Komite Tetap DPR berpendapat bahwa hal tersebut sepenuhnya wajar. Namun, saat ini pupuk merupakan komoditas yang tunduk pada stabilisasi harga oleh negara. Oleh karena itu, jika pasar menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan, instansi pemerintah dapat menerapkan langkah-langkah stabilisasi harga sesuai ketentuan Undang-Undang tentang Pengelolaan Harga, seperti melakukan inspeksi dan mewajibkan pelaku usaha untuk melaporkan faktor-faktor pembentukan harga, mengendalikan persediaan, menilai pasokan dan permintaan, dll., untuk menentukan penyebabnya, apakah ada faktor-faktor yang mencari untung atau tidak, agar dapat menerapkan langkah-langkah penanganan yang tepat.
Terkait dengan anggapan bahwa pengenaan PPN sebesar 5% terhadap pupuk akan mengakibatkan beban keuangan negara sebesar 1.500 miliar VND dan harus ditanggung oleh petani, Panitia Tetap Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menegaskan, jika pengenaan PPN sebesar 5% diterapkan, maka importir pupuk harus menyetor PPN sebesar 1.500 miliar VND ke dalam anggaran pendapatan dan belanja negara sejak tahap impor.
Namun, omzet impor pupuk akan cenderung menurun akibat penerapan PPN 5%, sehingga penerimaan riil ke APBN (jika ada) menjadi kurang dari VND 1.500 miliar. Selain itu, PPN yang dipungut dari pupuk impor harus dikompensasi dengan PPN yang harus dikembalikan kepada perusahaan dalam negeri. Oleh karena itu, dampak peningkatan penerimaan APBN akibat penerapan PPN 5% tidak signifikan, dan jika ada, akan jauh lebih rendah dari VND 1.500 miliar.
Mengenai dampak praktis terhadap petani, Komite Tetap Majelis Nasional menyatakan bahwa petani dapat memilih untuk membeli pupuk produksi dalam negeri dengan harga lebih murah daripada membeli pupuk impor. Selain itu, importir harus menyeimbangkan harga jual mereka dengan tingkat pasar domestik secara umum untuk memastikan kapasitas konsumsi.
Undang-undang ini akan mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2025.
[iklan_2]
Sumber: https://vtcnews.vn/quoc-hoi-chot-ap-thue-vat-5-doi-voi-phan-bon-ar909793.html
Komentar (0)