Menurut laporan dari perusahaan keamanan siber SlashNext, penjahat siber memanfaatkan alat pembuatan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT untuk menulis email phishing yang menargetkan bisnis dan pihak lain. Dalam survei terhadap lebih dari 300 profesional keamanan siber di Amerika Utara, hampir setengahnya melaporkan mengalami serangan phishing yang menargetkan bisnis mereka, dan 77% mengatakan mereka telah menjadi sasaran pelaku jahat.
CEO SlashNext, Patrick Harr, mengatakan temuan ini semakin memperkuat kekhawatiran tentang konten yang dihasilkan AI yang berkontribusi pada meningkatnya penipuan. Para penjahat sering menggunakan AI untuk mengembangkan malware atau penipuan rekayasa sosial untuk meningkatkan peluang keberhasilan mereka.
Menurut laporan tersebut, rata-rata 31.000 penipuan online terjadi setiap hari.
Peluncuran ChatGPT pada akhir tahun 2022 bertepatan dengan periode di mana SlashNext mengalami peningkatan serangan phishing, tambah Harr.
Mengutip laporan kejahatan internet FBI, penipuan yang melibatkan pengiriman email phishing ke bisnis menyebabkan kerugian sekitar $2,7 miliar pada tahun 2022.
Terlepas dari beberapa perdebatan tentang dampak sebenarnya dari generasi AI terhadap kejahatan siber, Harr percaya bahwa chatbot seperti ChatGPT sedang diubah menjadi "senjata" untuk serangan siber. Misalnya, pada bulan Juli, peneliti SlashNext menemukan dua chatbot berbahaya bernama WormGPT dan FraudGPT, yang dianggap sebagai alat yang membantu penjahat melakukan serangan phishing yang canggih.
Chris Steffen, direktur riset di Enterprise Management Associates, mengatakan peretas memanfaatkan alat pembuatan AI dan model pemrosesan bahasa alami (NLP) untuk melakukan penipuan. Dengan menggunakan AI untuk menganalisis informasi, artikel lama, dan meniru teks dari lembaga pemerintah atau bisnis, email phishing menjadi sangat meyakinkan dan sulit dibedakan.
Untuk mengatasi peningkatan serangan, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran keamanan dan waspada terhadap email atau aktivitas yang mencurigakan. Solusi lain adalah dengan menerapkan alat penyaringan email berbasis AI dan pembelajaran mesin untuk mencegah phishing. Organisasi juga perlu melakukan audit keamanan secara berkala, mengidentifikasi kerentanan sistem dan kelemahan dalam pelatihan karyawan, serta segera mengatasi masalah yang diketahui untuk mengurangi risiko serangan.
Tautan sumber






Komentar (0)